HAKIKAT DAN KONSEP EDUCATION, LEARNING AND SCHOOLING
(Makalah)
HAKIKAT DAN KONSEP EDUCATION, LEARNING AND SCHOOLING
Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata
Kuliah
MANAJEMEN MUTU TERPADU DALAM PENDIDIKAN
Dosen Pengampu:
Disusun Oleh:
KELOMPOK 1
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PRINGSEWU
LAMPUNG
PROGRAM PASCA SARJANA FAULTAS KEGURUAN PENDIDIKAN
TAHUN AKADEMIK 2022/2023
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur patut kita panjatkan
kepada Tuhan Yang Maha Esa oleh karena bimbingan dan petunjuk
– Nyalah sehingga kami dapat
menyelesaikan Karya tulish yang kami susun ini sebagaimana mestinya.
Karya Tulis ini dibuat
sesuai dengan kaidah-kaidah yang terdiri dari Pendahuluan , Landasan Teori , Pembahasan, Kesimpulan dan Saran .
Tak ada gading yang tak retak
, begitupun penyusunan makalah
ini masih sangat jauh dari kesempurnaan oleh karena itu saran dan kritikan dari semua pihak yang sifatnya
membangun sangat kami
harapkan.
Dan sebagai hamba Allah yang lemah tentu kami berharap
supaya segala bantuan dari berbagai pihak hanya Allah
SWT yang dapat membalasnya dengan pahala yang berlipat
ganda . Amin.
Pringsewu, September 2023
Penulis
YULIZA
DAFTAR ISI
|
Sampul Judul
............................................................................................ |
i |
|
Kata Pengantar ......................................................................................... |
ii |
|
Daftar Isi .................................................................................................... |
iii |
|
I. PENDAHULUAN A. Latar
Belakang ................................................................................ |
1 |
|
B. Rumusan
Masalah .......................................................................... |
2 |
|
C. Tujuan
Penulisan Makalah ............................................................ |
2 |
|
D. Manfaat
Penulisan Makalah ............................................................ |
2 |
|
II. LANDASAN TEORI A. Definisi
Konsep .............................................................................. |
3 |
|
B. Definisi
Pendidikan ........................................................................ |
4 |
|
C. Definisi
Belajar................................................................................. |
5 |
|
D. Definisi Schooling............................................................................ |
6 |
III.
PEMBAHASAN
A. Konsep Pendidikan.............................................................. 16
B.
Hakikat Pendidikan.............................................................. 18
C. Hakikat Belajar.................................................................... 19
D.
Hakikat Schooling................................................................ 20
IV.
KESIMPULAN DAN SARAN
A.
Kesimpulan.......................................................................... 22
B. Saran.................................................................................... 23
Daftar Pustaka.............................................................................. 24
BAB I PENDAHULUN
A. Latar Belakang
Pendidikan merupakan suatu kegiatan
yang bersifat umum bagi setiap manusia dimuka
bumi ini. Pendidikan tidak terlepas dari segala kegiatan manusia. Dalam kondisi apapun
manusia tidak dapat menolak efek
dari penerapan pendidikan.
Sejak
dahulu dari generasi
ke generasi, walaupun
berawal dari sesuatu
yang sederhana, sesungguhnya pendidikan sudah ada. Pengetahuan, pemahaman dan pengalaman tentang pendidikan senantiasa perlu
dipersegar dan diperkaya, mengingat ilmu, konsep tentang pendidikan adalah hasil pemikiran manusia yang bersifat
dinamis, berubah – ubah karena
pengaruh situasi dan kondisi
kehidupan umat manusia pada umumnya. konsep pendidikan selalu
mengalami perubahan seiring
dengan tuntutan zaman dan peradaban
umat manusia di dunia
dalam berbagai aspek kehidupan.
Pemahaman yang baik tentang hakikat
pendidikan akan memperkaya wawasan dan memantapkan kepercayaan diri si pendidik
karena si pendidik
memiliki pegangan yang kuat dalam
melakukan berbagai upaya pendidikan.
Menyadari peran penting pendidikan,
maka langkah pertama yang harus dilakukan adalah
memahami terlebih dahulu konsep dan hakikat pendidikan. Pemahaman tentang konsep dan hakikat
pendidikan akan menyebabkan kita memahami peran,
mendudukkannya, dan menilai pendidikan secara proporsional.
B. Rumusan Masalah
Dari permasalahan di atas, maka permasalahan yang diangkat
dalam makalah ini adalah
1. Apakah konsep dan hakikat pendidikan yang
sesungguhnya ?
2.
Apakah hakikat learning
3.
Apakah hakikat schooling
C. Tujuan Penulisan
Adapun
tujuan dari penulisan
makalah ini adalah
untuk memberi pemahaman kepada pembaca
mengenai konsep dan hakikat pendidikan, belajar dan schooling sekolah serta hal –
hal yang terkandung didalamnya.
D. Manfaat Penulisan
1. Untuk memudahkan pembaca dalam memahami
konsep dan hakikat
pendidikan belajar dan sekolah
2. Dapat mendorong keinginan pembaca untuk mengetahui lebih banyak dan mendalam tentang
konsep dan hakikat pendidikan belajar dan sekolah
3. Memperkaya wawasan
dan memantapkan kepercayaan diri pembaca karena
pembaca akan memliki
pegangan yang kuat dalam melakukan berbagai
upaya pendidikan.
BAB II
LANDASAN TEORI
A. Definisi Konsep
Menurut
Dorothy J. Skell (1979:18), “Konsep
adalah sesuatu yang tergambar dalam
pikiran atau suatu pemikiran, gagasan atau suatu pengertian. Definisi
lain yaitu konsep adalah suatu citra
mental tentang sesuatu. Sesuatu tersebut dapat berupa objek konkret ataupun
gagasan yang abstrak”.
Sedangkan james G. Womack (1970:30)
mengemukakan konsep sebagai
suatu kata atau ungkapan yang berhubungan dengan sesuatu yang menonjol,
sifat yang melekat.
Pemahaman dan penggunaan konsep yang tepat bergantung pada penguasaan sifat yang melekat tadi,
pengertian umum kata yang bersangkutan. Konsep memiliki pengertian denotatif dan juga pengertian konotatif.
Berdasarkan dua acuan konsep tadi, dapat dikemukakan bahwa
konsep itu tidak lain adalah pengertian yang tergambar dalam
pikiran yang mencitrakan suatu benda atau suatu gagasan,
baik konkret ataupun abstrak.
Adapun maksudnya bahwa konsep memiliki pengertian denotatif
dan konotatif yaitu : Pengertian
denotatif adalah pengertian berdasarkan arti katanya yang dapat digali dalam kamus, sedangkan pengertian konotatif adalah pengertian yang tingkatnya tinggi
dan luas.
B. Definisi Pendidikan
Pendidikan merupakan suatu fenomena manusia yang sangat
kompleks. Karena sifatnya yang sangat
kompleks itu maka pendidikan dapat dilihat dan dijelaskan dari berbagai sudut pandang, seperti dari sudut
pandang psikologi, sosiologi dan antropologi,
ekonomi, politik, komunikasi dan sebagainya. Oleh sebab itu pula,
definisi yang dikemukakan oleh para
ahli sangat beragam. Definisi yang dikemukakan oleh para ahli memiliki tekanan dan orientasi yang
berbeda-beda karena landasan falsafah yang digunakan berbeda-beda pula.
Berikut beberapa
definisi pendidikan :
1. Secara Etimologik
Istilah asing yang biasa dipakai untuk memaknai kata pendidikan adalah paedagogie (Bahasa Yunani) dan education (Bahasa Latin).
a. Paedagogie (Menurut Bahasa
Yunani)
Untuk memahami pendidikan, ada dua istilah yang dapat
mengarahkan pada pemahaman
hakikat pendidikan, yakni kata paedagogie dan
paedagogiek. paedagogie bernakna pendidikan, sedangkan
paedagogiek berarti ilmu pendidikan (Purwanto, 1995:3). Oleh karena itu, tidaklah mengherankan
apabila pedagogik (pedagogics) atau ilmu mendidik adalah
ilmu atau teori yang sistematis tentang pendidikan yang sebenarnya
bagi anak atau untuk anak sampai ia
mencapai kedewasaan (Rasyidin, 2007:34).
Secara etimologik, perkataan
paedagogie berasal dari bahasa Yunani, yaitu paedagogia yang berarti pergaulan dengan
anak. Paidagogos adalah hamba atau orang yang pekerjaannya menghantar dan
mengambil budak-budak pulang pergi atau
antar jemput sekolah. Perkataan “paida” merujuk kepada kanak-kanak, yang menjadikan sebab mengapa sebagian
orang cenderung membedakan antara pedagogi (mengajar kanak-kanak) dan andragogi (mengajar orang dewasa).
Perkataan pedagogi yang juga berasal dari bahasa Yunani kuno juga dapat dipahami dari kata “paid” yang bermakna anak, dan “ogogos” yang berarti membina atau membimbing. Apa yang dipraktikkan dalam pendidikan selama ini adalah konsep pedagogi, yang secara harfiah adalah seni mengajar atau seni mendidik anak-anak (Muis Sad Imam, 2004:5)
b. Education (Menurut Bahasa Latin)
Menurut Khursyid Ahmad, education berasal dari bahasa latin
yaitu e, ex (Out) artinya keluar, dan
ducere artinya mengatur, memimpin, menyerahkan. Sehingga memiliki arti mengumpulkan dan menyampaikan informasi
(pelajaran) dan menyalurkan / menarik bakat
keluar. Dalam praktik
pendidikan, kegiatan-kegiatan seperti mengatur, memimpin dan
mengarahkan bakat anak merupakan aktivitas utama.
2. Secara Terminologik
Dari sudut pandang
terminologik, pendapat para ahli pendidikan cukup beragam dalam
memberikan arti pendidikan. Namun sebelumnya terlebih
dahulu mari kita
perhatikan definisi pendidikan menurut Kamus Besar Bahasa
Indonesia dan Kamus Bahasa Inggris
berikut.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, pendidikan adalah
suatu usaha manusia untuk mengubah
sikap dan tata laku seseorang atau sekelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan latihan. ( Kamus Besar Bahasa Indonesia, 1991).
Berdasarkan Kamus Bahasa Inggris Oxford, kata pendidikan diambil dari Bahasa Latin pada pertengahan abad ke-16, dari kata education dari asal kata kerja educare yang bermakna the process of receiving or giving systematic instruction, especially at a school or university. Yaitu pendidikan adalah proses menerima atau memberi instruksi secara sistematik, terutama di sekolah atau perguruan tinggi.
A. Hakikat Pendidikan Menurut
Para Ahli / Tokoh Pendidikan
1. George F Kneller,
dalam bukunya Foundation Of Education
Dalam arti luas Pendidikan adalah suatu tindakan atau
pengalaman yang mempunyai pengaruh
yang berhubungan dengan pertumbuhan dan perkembangan pikiran, watak atau kemampuan fisik individu. Sedangkan
dalam arti sempit pendidikan adalah apa yang kita peroleh
melalui belajar, pengetahuan atau nilai-nilai
dan keterampilan.
2.
John Dewey, dalam bukunya
Democracy & Education
Pendidikan merupakan rekonstruksi atau reorganisasi
pengalaman yang menambah makna
pengalaman, dan menambah kemampuan untuk mengarahkan pengalaman selanjutnya.
3.
Fredrick Mayer, dalam bukunya Foundation Of Education
Pendidikan adalah
Suatu proses yang menuntun pencerahan umat manusia.
4. John S Brubacher, dalam bukunya
Modern Philosophies Of Education Pendidikan merupakan proses
dimana potensi-potensi, kemampuan, kapasitas manusia yang
mudah dipengaruhi oleh kebiasaan, disempurnakan dengan kebiasaan yang baik, dengan
alat yang disusun dan mencapai tujuan
yang ditetapkan.
5.
Carter V Good, dalam Dictionary Of Education
Pendidikan merupakan : Keseluruhan proses dimana seseorang
mengembangkan kemampuan, sikap dan bentuk tingkah
laku lain yang bernilai positif
dalam masyarakat dimana
dia hidup.
Proses sosial dimana orang dihadapkan
pada pengaruh lingkungan yang terpilih dan
terkontrol, sehingga memperoleh atau mengalami perkembangan kemampuan social
dan individual yang optimal.
6.
Menurut Buku “Higher Education For American Democracy"
Education is an institution of civilized society,
but the purposes of education
are not the same in all societies. An educational system finds it’s the guiding principles and ultimate goals in the aims and philosophy of the social
order in wich it functions
(11:5) Pendidikan ialah satu
lembaga dalam tiap – tiap masyarakat yang beradab, tetapi tujuan pendidikan tidaklah
sama dalam setiap masyarakat. System pendidikan suatu
masyarakat (bangsa) dan tujuan – tujuan pendidikannya didasarkan atas prinsip
– prinsip (nilai
– nilai), cita-cita dan filsafat yang berlaku dalam suatu masyarakat
(bangsa).
7.
Langeveld
Mendidik adalah memberikan pertolongan secara sadar dan sengaja pada seorang anak (yang belum dewasa) dalam pertumbuhannya menuju kearah kedewasaan dalam arti berdiri
sendiri dan bertanggung jawab sesuai atas segala tindakan – tindakannya menurut pilihannya
sendiri. Langeveld juga mengemukakan tiga hakikat
manusia :
a. Manusia hakekatnya sebagai makhluk social
b.
Manusia hakekatnya sebagai
makhluk individu
c.
Manusia hakekatnya sebagai
makhluk susila
8.
Kosasih Djahiri (1980 :
3)
Pendidikan adalah merupakan upaya yang terorganisir, berencana dan berlangsung kontinyu (terus menerus
sepanjang hayat) kearah membina manusia / anak didik menjadi insan paripurna, dewasa dan berbudaya.
Dari pengertian tersebut bahwa
pendidikan merupakan upaya yang terorganisir
memiliki makna bahwa
pendidikan tersebut dilakukan oleh usaha sadar manusia dengan dasar dan tujuan yang jelas, ada tahapannya dan ada komitmen bersama
di dalam proses pendidikan itu. Berencana mengandung arti
bahwa pendidikan itu direncanakan sebelumnya, dengan suatu proses
perhitungan yang matang
dan berbagai
system pendukung yang disiapkan. Berlangung kontinyu
artinya pendidikan itu terus menerus
sepanjang hayat, selama manusia hidup proses pendidikan itu akan tetap dibutuhkan. Selanjutnya diuraikan bahwa dalam upaya membina tadi digunakan asas / pendekatan manusiawi / humanistic
serta meliputi keseluruhan aspek / potensi anak didik serta utuh dan bulat (aspek fisik-non fisik :
emosi-intelektual ; kognitif, afektif dan
psikomotor) sedangkan pendekatan humanistic adalah pendekatan dimana anak didik dihargai sebagai insan manusia
potensial (mempunyai kemampuan kelebihan – kekurangannya
dll), diperlukan dengan penuh kasih sayang, hangat, kekeluargaan, terbuka,
objektif dan penuh kejujuran serta dalam suasana
kebebasan tanpa ada tekanan / paksaan apapun juga.
9. Kleis (1974)
Pendidikan adalah pengalaman, yang
dengan pengalaman itu seseorang atau sekelompok orang dapat memahami
sesuatu yang sebelumnya tidak mereka pahami.Pengalaman itu terjadi karena ada
interaksi antara seseorang atau kelompok dengan
lingkungannya. Interaksi itu menimbulkan proses perubahan (belajar) pada manusia
dan selanjutnya proses perubahan itu menghasilkan perkembangan (development) bagi kehidupan seseorang atau kelompok dalam lingkungannya.
10. Idris (1982 : 10)
Pendidikan adalah serangkaian kegiatan
komunikasi yang bertujuan
antara manusia dewasa dengan si anak didik yang secara tatap muka atau dengan menggunakan media dalam rangka memberikan bantuan
terhadap perkembangan anak seutuhnya, dalam arti supaya
dapat mengembangkan potensinya semaksimal mungkin, agar menjadi
manusia dewasa yang bertanggung jawab.
11.
Hogeveld
Pendidikan adalah membantu anak supaya
dia cukup cakap menyelenggarakan tugas hidup atas tanggung jawab sendiri.
12.
Ki Hajar Dewantara
Pendidikan adalah menuntun segala
kekuatan kodrat pada anak – anak agar mereka sebagai
manusia dan sebagai
anggota masyarakat dapat
mencapai keselamatan dan kebahagiaan
yang setinggi – tingginya.
Menurut Ki Hajar Dewantara terdapat lima asas dalam pendidikan yaitu :
1. Azas
kemerdekaan : memberikan kemerdekaan kepada anak didik, tetapi bukan kebebasan
yang leluasa, terbuka,
melainkan kebebasan yang dituntun oleh kodrat alam,
baik dalam kehidupan individu
maupun sebagai anggota masyarakat.
2. Azas kodrat
alam : pada dasarnya manusia
itu sebagai makhluk
yang menjadi satu dengan
kodrat alam, tidak dapat lepas dari aturan main (sunatullah), tiap orang diberi
keleluasaan, dibiarkan, dibimbing untuk berkembang secara wajar menurut
kodratnya.
3. Azas kebudayaan : berakar dari kebudayaan bangsa,
namun mengikuti kebudayaan luar yang telah maju sesuai
dengan jaman. Kemajuan dunia tetap diikuti, namun kebudayaan sendiri tetap menjadi acuan
utama (jati diri).
4. Azas kebangsaan : Membina kesatuan
kebangsaan, perasaan satu dalam suka dan duka, perjuangan bangsa, dengan tetap
menghargai bangsa lain, menciptakan keserasian dengan bangsa lain.
5. Azas
kemanusiaan : Mendidik anak menjadi
manusia yang manusiawi sesuai dengan kodratnya sebagai makhluk Tuhan.
13.
Jean Piaget (1896)
Pendidikan berarti menghasilkan,
mencipta, sekalipun tidak banyak, sekalipun suatu
penciptaan dibatasi oleh pembandingan dengan penciptaan lain. Pandangan tersebut
memberi makna bahwa pendidikan adalah segala situasi
hidup yang mempengaruhi pertumbuhan individu sebagai
pengalaman belajar yang berlangsung dalam segala lingkungan dan sepanjang hidup.
14. (Mc Leod,
1989)
Dalam
pengertian yang sempit pendidikan berarti
perbuatan atau proses perbuatan untuk memperoleh pengetahuan.
15.
(Mudyahardjo, 2001:6)
Pendidikan adalah segala pengalaman
belajar yang berlangsung dalam segala lingkungan
dan sepanjang hidup serta pendidikan dapat diartikan sebagai pengajaran yang diselenggarakan
di sekolah sebagai lembaga pendidikan formal.
16. (Muhibinsyah, 2003:10)
Dalam pengertian yang agak luas
pendidikan diartikan sebagai sebuah proses dengan metode-metode tertentu sehingga orang memperoleh pengetahuan, pemahaman, dan cara bertingkah laku yang sesuai dengan kebutuhan.
17. (Poerbakawatja dan Harahap,
1981)
Dalam arti luas pendidikan meliputi
semua perbuatan dan usaha dari generasi tua untuk mengalihkan pengetahuannya, pengalamannya, kecakapannya, dan keterampilannya
kepada generasi muda sebagai usaha menyiapkannya agar dapat memenuhi fungsi hidupnya baik jasmaniah
maupun rohaniah. Artinya pendidikan adalah usaha secara sengaja
dari orang dewasa untuk dengan pengaruhnya meningkatkan si anak ke kedewasaan yang
selalu diartikan mampu menimbulkan tanggung jawab moril dari segala perbuatannya.
18.
(Thompson, 1993)
Pendidikan merupakan pengaruh lingkungan terhadap individu untuk menghasilkan
perubahan-perubahan yang tetap dalam kebiasaan prilaku, pikiran dan sikapnya.
19. J.J. Rousseau
Pendidikan adalah memberi kita
perbekalan yang tidak ada pada masa kanak- kanak, akan tetapi kita membutuhkannya pada waktu dewasa.
20.
Crow and Crow
Pendidikan merupakan Proses dimana pengalaman dan informasi diperoleh
sebagai hasil belajar.
B. Menurut Pandangan Mono Disipliner
Dalam rangka menjawab pertanyaan apa hakekat pendidikan itu, sementara para ahli hanya berorientasi kepada salah satu (mono) disiplin ilmu tertentu saja. Mereka itu antara lain adalah :
1. Pandangan Sosiolog
Menurut
pandangan ini pendidikan hendaknya dilihat sebagai
aspek sosial. Oleh karena
itu pendidikan dirumuskan sebagai usaha (proses) pewaris social dari generasi ke generasi
(Redja Mudyahardjo, 1985:3)
2.
Pandangan Antropologi (Budaya)
Pendidikan dirumuskan sebagai usaha pemindahan nilai-nilai budaya ke generasi
berikutnya. Inti kebudayaan disimpulkan adalah bermacam-macam pengetahuan. Hal ini sering dikenal sebagai proses culture
overdrach. Pandangan ini sejalan dengan pandangan aliran Essensialisme.
3. Pandangan Psikilogi
Pandangan ini banyak cabang-cabangnya, sebanyak aliran jiwa yang ada, misalnya
behaviorisme, individualism (ilmu jiwa, individual), psikoanalitik dan lain- lainnya.
Jika orientasinya kepada behaviorisme, maka aspek tingkah
laku yang dipentingkan. Jika orientasinya ilmu jiwa
individual, maka aspek pribadi utuh yang diutamakan.
4. Pandangan Ekonomi
Pandangan ini melihat
pendidikan sebagai usaha
penanaman modal insan.
5. Pandangan Politik
Pendidikan diartikan
sebagai usaha pembinaan kader bangsa, cinta bangsa.
6. Pandangan Filosofis tentang
Hakikat Manusia (Antropologi Filsafat)
Terhadap hakikat manusia terdapat banyak
sekali pandangan-pandangan yang satu dengan yang lain saling berbeda.
a.
Manusia sebagai homo religious
(makhluk beragama), maka hakikat pendidikan berarti mengembangkan kesadaran beragama melalui pendidikan agama.
b.
Manusia sebagai homo sapiens
(makhluk rasional / berpikir), maka hakekat pendidikan ialah mengembangkan kemampuan
berfikir anak / subjek didik, melalui
pendidikan intelektual (kognitif)
c.
Manusia sebagai homo economicus
(makhluk ekonomis / kesadaran ekonomi), maka hakekat
pendidikan adalah membimbing anak hingga dapat bertindak sesuai
prinsip-prinsip ekonomi.
d.
Manusia sebagai homo fiber (makhluk
berpiranti), maka hakekat pendidikan adalah
mengembangkan dan melatih berbagai macam keteampilan.
e.
Manusia sebagai homo etis (makhluk
susila), maka hakekat pendidikan ialah menanamkan norma-norma kesusilaan dan mampu berbuat susila.
f.
Manusia sebagai homo socius
(makhluk sosial), maka hakekat pendidikan adalah proses sosialisasi
atau mempersiapkan hidup di
masyarakat.
g.
Manusia sebagai homo mono dualis
(makhluk dwi tunggal), yaitu jasmani dan rohani.
Maka hakekat pendidikan berarti mengembangkan kedua aspek tersebut sebagai
kesatuan.
h.
Manusia sebagai makhluk homo mono
pluralis (makhluk seutuhnya dari macam- macam segi), maka hakekat
pendidikan berarti mengembangkan semua sisi kepribadiannya (individu, sosial, agama, kecerdasan, keterampilan, dan seterusnya.
C. Menurut Pandangan Multi Disipliner
Berdasarkan tinjauan multi disipliner, Redja Mudyahardjo (1986:3)
mengembangkan bahwa pendidikan adalah keseluruhan kerja insansi yang terbentuk dari bagian-bagian yang mempunyai hubungan
fungsional dalam membantu
terjadinya proses transformasi atau perubahan tingkah laku
seseorang sehingga mencapai kualitas hidup yang diharapkan.
D.
Konsep Pendidikan Ditinjau dari Perundang-Undangan Indonesia
UU No. 20 Tahun 2003 Tentang
Sistem Pendidikan Nasional
Pasal 1 ayat 1 Pendidikan adalah
usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik
secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki
kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya,
masyarakat, bangsa dan Negara.
BAB III
PEMBAHASAN
A. Konsep Pendidikan
Salah satu pengertian yang sangat umum
dikemukakan oleh Driyarkara (1980)
yang menyatakan bahwa pendidikan adalah proses memanusiakan manusia muda. Pengangkatan manusia muda ke taraf
insani harus diwujudkan di dalam seluruh proses atau upaya pendidikan.
Di dalam
Kamus Internasional Pendidikan (International
Dictionary Of Education) pendidikan setidak-tidaknya memiliki tiga ciri
utama sebagai berikut.
1.
Proses mengembangkan kemampuan,
sikap, dan bentuk-bentuk tingkah laku lainnya di dalam masyarakat, dimana dia hidup.
2.
Proses sosial, dimana seseorang
dihadapkan pada pengaruh lingkungan yang terpilih
dan terkontrol (khususnya yang datang dari sekolah) untuk mencapai kompetensi sosial dan pertumbuhan individual secara optimum.
3. Proses pengembangan pribadi atau watak manusia.
Pengertian tersebut mirip dengan pendapat G. Thompson (1957) yang menyatakan bahwa pendidikan adalah pengaruh lingkungan atas individu untuk menghasilkan perubahan-perubahan yang tetap didalam
kebiasaan-kebiasaan , pemikiran, sikap-sikap, dan tingkah
laku. Sejalan dengan
pandangan tersebut, Crow and Crow (1960) mengemukakan harus diyakini
bahwa fungsi utama pendidikan adalah bimbingan
terhadap individu dalam upaya memenuhi kebutuhan dan keinginan yang sesuai dengan potensi yang dimilikinya
sehingga dia memperoleh kepuasan dalam seluruh aspek kehidupan pribadi dan kehidupan sosialnya.
Pendapat tersebut memandang pendidikan bukan hanya sebagai
pemberian informasi
pengetahuan dan pembentukan keterampilan melainkan lebih luas daripada itu, meliputi usaha untuk mewujudkan
keinginan, kebutuhan dan kemampuan individu
sehingga tercapai pola hidup pribadi
dan social yang memuaskan. Pendidikan dipandang bukan
semata- mata sebagai sarana untuk menyiapkan individu bagi kehidupannya dimasa depan tetapi juga untuk kehidupan
anak sekarang yang sedang mengalami perkembangan menuju ke tingkat kedewasaan.
Berdasarkan pengertian tersebut
di atas, dapat diberikan beberapa
ciri atau unsur umum dalam
pendidikan, yaitu :
1. Pendidikan
harus memiliki tujuan, yang pada hakekatnya adalah pengembangan potensi individu yang bermanfaat bagi
kehidupan pribadinya maupun bagi warga negara
atau warga masyarakat lainnya
2. Untuk
mencapai tujuan tersebut, pendidikan perlu melakukan upaya yang disengaja dan terencana yang meliputi upaya bimbingan, pengajaran dan pelatihan;
3. Kegiatan
tersebut harus diwujudkan di dalam lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat yang lazim disebut
dengan pendidikan formal,
informal dan nonformal.
B. Hakikat Pendidikan
Tilaar (1999:28) merumuskan hakikat
pendidikan sebagai suatu proses menumbuhkembangkan eksistensi peserta
didik yang memasyarakat, membudaya, dalam tata kehidupan yang berdimensi local,
nasional, dan global.
Rumusan hakikat pendidikan tersebut memiliki komponen-komponen sebagai berikut.
1.
Pendidikan merupakan
suatu proses yang berkesinambungan. Artinya
proses pendidikan mengimplikasikan bahwa peserta didik memiliki kemampuan- kemampuan yang immanent
(tetap ada) sebagai
makhluk sosial, dan juga mengimplikasikan bahwa manusia adalah
makhluk yang tidak
tidak pernah selesai.
2.
Proses pendidikan berarti menumbuhkembangkan eksistensi manusia.
Artinya keberadaan manusia
adalah suatu keberadaan interaktif. Interaksi manusia ini tidak saja dengan sesamanya, tetapi juga dengan alam,
ide, dan dengan Tuhannya.
3.
Eksistensi manusia yang memasyarakat. Proses pendidikan adalah proses mewujudkan eksistensi manusia yang memasyarakat. Dalam proses ini terjadi internalisasi nilai-nilai, pembaruan
dan revitalisasi (penyegaran) moral.
4.
Proses bermasyarakat dan membudaya mempunyai dimensi waktu dan ruang. Proses
tersebut dapat menembus dimensi masa lalu, kini, dan masa depan. Selain
itu berkat kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi komunikasi, proses pendidikan juga dapat menembus
dimensi local, nasional, regional dan global.
Kita juga harus mengetahui bahwa
pandangan tentang hakikat pendidikan yang
bersifat holistic dan integratif itu memandang peserta didik sebagai makhluk yang dikaruniai berbagai
potensi oleh penciptanya. Potensi yang dimiliki
oleh peserta didik hanya dapat dikembangkan jika dia mengintegrasikan diri ke dalam kehidupan masyarakat dan mewujudkan tata kehidupan dan nilai-nilai kemanusiaan yang dijunjung tinggi oleh masyarakat. Itulah manusia yang berbudaya. Dengan demikian,
pendidikan tidak dapat dan tidak boleh dipisahkan dari kebudayaan. Proses pendidikan adalah proses kebudayaan dan proses kebudayaan adalah proses pendidikan. Memisahkan pendidikan dari kebudayaan berarti
menjauhkan pendidikan dari perwujudan nilai-nilai moral di dalam
kehidupan manusia.
Dimanapun pendidikan akan selalu
berhadapan dengan individu manusia yang
tengah berkembang, Sunaryo Kartadinata (1996) mengemukakan pengertian pendidikan dalam rumusan yang cukup sederhana
tetapi penuh makna, yaitu pendidikan
adalah proses membawa manusia dari apa adanya kepada bagaimana seharusnya. Kondisi apa adanya adalah kondisi nyata peserta didik saat ini,
suatu keberadaan anak dengan segala
potensi, kemampuan, sifat, dan kebiasaan yang
dimilikinya. Sedangkan kondisi
bagaimana seharusnya adalah suatu kondisi yang diharapkan terjadi pada diri anak,
berupa perubahan perilaku
dalam aspek cipta,
rasa, karsa dan karya yang
berlandaskan dan bermuatan nilai-nilai kemanusiaan yang dijunjung tinggi.
Dalam proses pendidikan terjadi proses
perkembangan. Pendidikan adalah proses
membantu peserta didik agar berkembang secara optimal; yaitu berkembang setinggi mungkin, sesuai dengan potensi
dan sistem nilai yang dianutnya dalam masyarakat. Pendidikan bukanlah proses memaksakan kehendak orang dewasa kepada
peserta didik, melainkan upaya menciptakan kondisi yang kondusif bagi perkembangan anak, yaitu kondisi
yang memberikan kemudahan
kepada anak untuk mengembangkan dirinya
secara optimal.
Betapa pun sulitnya mendefinisikan
pendidikan, namun untuk keperluan aplikasinya tetap perlu memiliki pegangan
tertentu, agar apa yang kita lakukan memiliki pijakan yang mantap. Sekarang Bangsa Indonesia telah memiliki Undang
– Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan
Nasional. Dengan adanya Undang-Undang ini, maka penyelenggaraan pendidikan, terutama pendidikan formal memiliki pijakan
legal yang mantap,
bahkan mengikat berbagai
pihak untuk melaksanakannya secara konsekuen.
Akhirnya makna pendidikan yang mantap dinyatakan di
dalam Undang- Undang No. 20 Tahun
2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 1 (1) yaitu “Pendidikan
adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar
dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi
dirinya untuk memiliki
kekuatan spiritual
keagamaan,
pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya,
masyarakat, bangsa dan Negara”.
Jika dikaji lebih mendalam, makna pendidikan tersebut
mengandung beberapa hal, yaitu :
a.
Pendidikan itu merupakan usaha sadar, artinya
tindakan mendidik bukan merupakan
tindakan yang bersifat refleks atau spontan tanpa tujuan dan rencana yang jelas, melainkan merupakan tindakan
yang rasional, disengaja, disiapkan, direncanakan untuk mencapai tujuan tertentu. Tindakan
mendidik harus didasarkan atas tujuan dan dengan alasan-
alasan yang rasional dan normatif, bukan tindakan asal-asalan;
b.
Paradigma baru praktek pendidikan lebih menekankan kepada
pembelajaran alih- alih kepada proses mengajar yang
mengutamakan peran pendidik, melainkan secara sengaja
dan terencana pendidik
memanfaatkan berbagai sumber
dan media belajar
yang ada di lingkungan untuk mencapai keberhasilan belajar peserta didik;
c.
Mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran yang efektif menjadi
fokus utama proses pendidikan;
d.
Peserta didik harus aktif, artinya
bukan hanya mendengarkan saja, melainkan harus lebih banyak bertanya,
melakukan kegiatan tertentu,
mencari sumber belajar,
mencoba dan menemukan
sendiri;
e.
Tujuan pendidikan adalah
menumbuhkembangkan pribadi- pribadi yang beriman dan bertakwa, berakhlak
mulia, cerdas dan memiliki keterampilan yang bermanfaat bagi kehidupan dirinya, masyarakat dan
bangsa.
C. Hakikat Belajar
Belajar adalah suatu aktivitas yang
disengaja dilakukan oleh individu agar terjadi
perubahan kemampuan diri. Menurut Gagne (1984), bahwa belajar adalah
suatu proses di mana suatu organisma
berubah perilakunya sebagai akibat pengalaman (dalam Winataputra dkk, 1997, 2.3). Dari pengertian
tersebut terdapat tiga unsur pokok dalam belajar, yaitu: proses, perubahan
perilaku dan pengalaman yang dapat dijelaskan ebagai berikut;
1. Belajar sebagai Proses
Belajar adalah proses mental dan
emosional atau proses berpikir dan merasakan.
Seorang dikatakan belajar apabila pikiran dan perasaanya aktif.
Aktivitas pikiran dan perasaan itu
sendiri tidak dapat diamati orang lain, akan tetapi dirasakan oleh yang bersangkutan sendiri. Belajar tidak hanya
dengan mendengarkan penjelaskan guru saja (tidak
harus ada yang mengajar), karena belajar dapat dilakukan siswa dengan berbagai macam cara dan kegiatan, seperti
halnya interaksi antara
individu dengan lingkungannya, mengamati demonstrasi guru, mencoba sendiri,
mendiskusikan dengan teman,
melakukan eksperimen, memecahkan persoalan, mengerjakan soal, membaca
sendiri dan sebagainya.
2. Belajar sebagai Upaya Perubahan Perilaku
Hasil
belajar akan nampak
pada perubahan perilaku
individu yang belajar.
Seseorang yang belajar akan
mengalami perubahan perilaku sebagai akibat kegiatan belajarnya. Pengetahuan dan keterampilanya bertambah,
dan penguasaan nilai-nilai dan sikapnya bertambah pula.
Perubahan perilaku
sebagai hasil belajar diklasifikasikan menjadi tiga domain yaitu:
a.
Kognitif, yang meliputi perilaku
daya cipta, yaitu berkaitan dengan kemampuan
intelektual manusia, antara lain: kemampuan mengingat (knowledge), memahami (comprehension),
menerapkan (application),
menganalisis (analysis), mensintesis (synthesis), dan mengevaluasi (evaluation).
b.
Afektif, berkaitan dengan perilaku
daya rasa atau emosional manusia,
yaitu kemampuan menguasai nilai-nilai yang dapat membentuk sikap seseorang.
c.
Psikomotorik. psikomotorik
berkaitan dengan perilaku dalam bentuk keterampilan- keterampilan motorik (gerakan
pisik). Pada Pembelajaran perubahan perilaku sebagai hasil belajar yang ingin dicapai
ini dapat dirumuskan dalam bentuk tujuan pembelajaran
3. Belajar sebagai Pengalaman
Belajar
adalah mengalami, dalam arti bahwa belajar terjadi
karena individu berinteraksi dengan lingkungannya, baik lingkungan pisik maupun lingkungan sosial.
Lingkungan pisik adalah lingkungan di sekitar individu baik
dalam bentuk alam sekitar (natural) maupun dalam bentuk hasil ciptaan manusia
(cultural). Macam-macam lingkungan pisik
yang bersifat natural antara lain pantai, hutan, sungai, udara, air, dan
sebagainya. Bersifat cultural adalah
buku, media pembelajaran, gedung sekolah, perabot sekolah, dan sebagainya. Adapun lingkungan sosial siswa
diantaranya guru, orang tua, pustakawan, pemuka masyarakat, kepala sekolah, dsb.
Belajar merupakan sebuah sistem yang
didalamnya terdapat pelbagai unsur yang saling
terkait sehingga menghasilkan perubahan perilaku (Gagne, 1997: 4). Beberapa
unsur yang dimaksud adalah:
1. Peserta didik
2.
Rangsangan (stimulus)
3.
Memori
4.
Respon
Agar kegiatan belajar mencapai hasil
yang maksimal, ada hal penting yang harus diperhatikan
dan diupayakan. Hal penting ini merupakan pedoman atau ketentuan yang harus dijadikan pegangan dalam pelaksanaan
kegiatan belajar kita sebut sebagai prinsip-
prinsip belajar. Prinsip belajar inilah yang dapat menentukan
proses dan hasil belajar.
1.
Prinsip Motivasi
Motivasi merupakan motor penggerak untuk
melaksakan kegiatan belajar. Motivasi berkaitan
erat dengan tujuan belajar, artinya apabila siswa menyadari bahwa tujuan belajar
yang akan dicapai
merupakan sesuatu yang bermanfaat bagi dirinya, dan belajar merupakan kebutuhan pokok yang harus
dilakukan , sehingga siswa akan terdorong untuk melaksanakan dengan sungguh-sungguh dalam
belajar.
2.
Prinsip Perhatian
Perhatian erat kaitannya dengan
motivasi, bahkan tidak dapat dipisahkan. Karena motivasi akan menentukan perhatian individu yang belajar dengan berusaha memfokuskan/memusatkan perhatian pada objek yang dipelajari.
3.
Prinsip Aktivitas
Belajar adalah suatu aktivitas, tetapi
tidak semua aktivitas adalah belajar. Sudah diuraikan
di depan bahwa aktivitas yang disebut belajar adalah aktivitas mental dan emosional dalam upaya terbentuknya
perubahan perilaku yang lebih maju, dari tidak
paham menjadi paham, dari tdak terampil manjadi
terampil, dan dari tidak sopan
menjadi sopan, dan sebagainya. Untuk
meningkatkan aktivitas dalam belajar guru harus merancang aktivitas belajar siswa secara mantap.
4.
Prinsip Umpan Balik
Setiap akhir pembelajaran siswa selalu
ingin mengetahui hasil belajarnya, karena dengan
mengetahui hasil belajar tersebut siswa dapat menentukan sikap dan aktivitas belajar selanjutnya, apakah harus
mengulang belajar atau dapat melanjutkan belajar materi berikutnya.
Contoh umpan balik yang diberikan
kepada siswa:
ü
Guru hanya mengatakan “pekerjaanmu salah”
ü
Guru mengatakan “pekerjaanmu salah pada bagian
ini…”
ü Guru mengatakan “pekerjaanmu salah pada bagian ini..” kemudian menunjukkan mengapa siswa salah, dan siswa diminta mengulang memahami materi
dan melakukan perbaikan.
5.
Prinsip Perbedaan Individual
Belajar merupakan pekerjaan individu
yang tidak dapat diwakilkan kepada orang lain. Tanpa aktivitas belajar
yang dilakukan sendiri,
maka sesorang tidak akan memperoleh kemampuan yang diharapkan. Jadi
belajar sebagai proses mental dan emosional
merupakan aktivitas individual. Maka perlu kiranya bagi seorang pelajar untuk memahami dan mengetahui bagaimana
dan belajar seperti
apa yang bisa dilakukan.
Sesuai dengan karakter masing masing. Menurut Bobby De Potter, gaya belajar
seseorang dibagi menjadi tiga tipe,
yaitu visual, auditori, dan
kinestetik.
a.
Gaya Belajar Visual
Gaya belajar visual
berfokus pada penglihatan. Saat mempelajari hal baru, biasanya
tipe ini perlu melihat sesuatu
secara visual untuk lebih mudah mengerti dan memahami.
Selain itu, tipe visual juga lebih nyaman belajar dengan pengunaan warna-warna, garis, maupun bentuk. Itulah
mengapa, orang yang memiliki tipe visual
biasanya memiliki pemahaman yang mendalam dengan nilai artistik seperti paduan
warna dan lainnya.
karakteristik tipe visual:
1) Lebih mudah
mengingat dari yang dilihat daripada
yang didengar
2) Lebih suka membaca daripada
dibacakan
3) Berbicara dengan
tempo agak cepat
4) Cukup peduli
dengan penampilan dan pakaian
5) Lebih menyukai
melakukan demonstrasi daripada pidato
6) Sulit untuk
menerima instruksi secara
verbal kecuali ditulis
7) Tidak mudah terdistraksi
dengan keramaian
8) Suka menggambar apa pun di kertas
Cara belajar yang tepat
untuk visual:
1) Belajar dari gambar maupun
video yang menarik
2) Membaca buku yang tidak hanya tulisan saja tetapi juga memiliki ilustrasi
3) Saat belajar
bisa sambil lakukan doodling
supaya lebih fokus
4) Gunakan spidol
warna-warni saat membuat
catatan
5) Membuat mind mapping untuk memudahkan belajar
b.
Gaya Belajar Auditori
Untuk yang memiliki gaya belajar auditori, mengandalkan
pendengaran sebagai menerima
informasi dan pengetahuan. Orang tipe tidak masalah dengan tampilan visual
saat mengajar, yang penting adalah
mendengarkan pembicaraan guru dengan baik dan jelas. maka tipe auditori
biasanya paling peka dan hafal dari setiap ucapan yang pernah
didengar bukan apa yang dilihat.
karakteristik tipe auditori:
1)
Lebih mudah mengingat sesuatu dari apa yang didengar
daripada yang dilihat
2)
Senang mendengarkan
3)
Mudah terdistraksi dengan keramaian
4)
Kesulitan dalam tugas
atau pekerjaan yang melibatkan visual
5)
Pandai menirukan nada atau
pun irama suara
6)
Senang membaca dengan mengeluarkan suara atau menggerakkan bibir mereka
7)
Biasanya merupakan pembicara
yang fasih
8) Mudah dalam mengingat nama saat berkenalan dengan orang baru
Cara belajar yang tepat untuk auditori:
1)
Dengarkan musik
yang disukai
2)
Bisa merekam saat guru
mengajar lalu dikemudian hari didengarkan kembali
3)
Apabila membaca buku, bisa sambil diucapkan
dengan suara pelan untuk lebih
mudah mengingat
4)
Mendengarkan materi yang diajarkan guru saat di kelas dengan
seksama
5) Belajar dengan diskusi bersama teman supaya lebih mudah memahami maupun mengingat materi
c.
Gaya Belajar Kinestetik
Gaya belajar ini menyenangi belajar yang
melibatkan gerakan. Biasanya orang
yang tipe ini, merasa lebih mudah mempelajari sesuatu tidak hanya sekadar membaca buku tetapi juga mempraktikkanya.
Dengan melakukan atau menyentuh objek
yang dipelajari akan memberikan pengalaman tersendiri bagi tipe kinestetik. Makanya, orang yang memiliki gaya belajar
tipe kinestetik biasanya tidak betah berdiam lama-lama di kelas.
karakteristik tipe kinestetik:
1. Menyenangi belajar
dengan metode praktik
2. Kadang kesulitan
dalam menulis tetapi
pandai dalam bercerita
3. Menyukai aktivitas
yang melibatkan gerakan
tubuh seperti olahraga
atau menari
4. Saat berkomunikasi banyak menggunakan isyarat tubuh
5. Menghafal dengan cara berjalan atau melihat
Cara belajar yang tepat untuk kinestetik:
1. Saat mendapatkan materi belajar, bila memungkinkan segera
coba praktikkan
2. Belajar sambil melakukan aktivitas
yang melibatkan gerakan,
misalnya sambil berjalan atau sesederhana menjetikkan
jari
3. Melakukan eksperimen dari materi yang didapatkan dari guru
4. Bisa mengunjungi tempat yang berhubungan materi di pelajaran, misalnya untuk pelajaran Sejarah bisa mengunjungi museum
5.
Mengikuti ekstrakurikuler seperti
seperti KIR (Kelompok
Ilmiah Remaja)
D. Hakikat Schooling.
1. Definisi
Schooling adalah pendidikan yang berjenjang hanya menitikberatkan pada aspek formal
sekolah
dasar
(SD)
hingga
perguruan tinggi
(PT).
Se-
mentara learning adalah proses pembelajaran yang harus terus-menerus dilakukan dari buaian hingga liang lahat. maka Pengertian sekolah adalah lembaga
pendidikan yang sifatnya
formal, non formal,
dan informal, dimana
pendiriannya dilakukan oleh negara maupun swasta dengan tujuan untuk memberikan pengajaran, mengelola, dan mendidik
para murid melalui
bimbingan yang diberikan oleh para pendidik atau guru.
ada juga yang menyebutkan definisi
sekolah adalah suatu lembaga
pendidikan yang dirancang secara khusus untuk mendidik
siswa/ murid dalam pengawasan para
pengajar atau guru. Sedangkan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), definisi sekolah adalah lembaga atau bangunan
yang dipakai untuk aktivitas belajar
dan mengajar sesuai dengan jenjang pendidikannya (SD, SLTP, SLTA) Sekolah menyelenggarakan aktivitas belajar dan
mengajar dengan menerima murid dan
memberikan pelajaran kepada para murid sesuai dengan tingkatan, jurusan, dan lainnya. Dan dalam kegiatan belajar-mengajar
di sekolah harus didukung oleh sarana
dan prasarana serta berbagai aturan/ peraturan yang telah dirancang dan ditetapkan oleh pemerintah Mengacu
pada pengertian sekolah
di atas, lembaga pendidikan ini terdiri dari beberapa unsur penting di
dalamnya. Adapun unsur-unsur sekolah adalah sebagai
berikut:
a.
Bangunan Sekolah
Sebagian besar kegiatan belajar
dan mengajar dilakukan di dalam bangunan sekolah. Adapun beberapa bagian dari sekolah
tersebut terdiri dari;
· Kelas
· Perpustakaan sekolah
· Ruang laboratorium sekolah
· Kantor guru
· Toilet siswa dan guru
· Kantin sekolah
· Dan lain-lain
b. Murid/ Siswa
Murid
atau siswa merupakan
unsur sekolah yang paling utama. Murid adalah
peserta didik yang akan mendapatkan pengajaran dari para tenaga
pendidik
c.
Guru/ Pengajar
Guru atau tenaga pengajar adalah unsur
sekolah yang sangat penting karena tanpa adanya guru maka proses belajar-mengjar tidak akan terjadi.
Tenaga pengajar tersebut harus
memenuhi kualifikasi tertentu agar dapat memberikan pengajaran kepada para peserta didik.
d.
Peraturan Sekolah
Peraturan sekolah adalah semua aturan yang
ditetapkan oleh sekolah tertentu dimana
tujuannya untuk memberikan batasan aturan kepada para peserta didik, tenaga pengajar,
dan unsur sekolah lainnya.
2.
Fungsi Sekolah
Secara Umum
Secara
umum, fungsi sekolah adalah untuk memberikan pengajaran kepada para peserta didik sehingga menjadi individu
yang berguna bagi dirinya sendiri dan lingkungannya. Adapun
beberapa fungsi sekolah
adalah sebagai berikut:
a.
Memberikan Pengetahuan Umum
Manusia
tanpa pengetahuan akan sangat sulit beradaptasi dengan lingkungannya. Oleh karena itu, pendidikan di sekolah
mengajarkan banyak hal mengenai pengetahuan umum kepada para peserta didik.
b.
Memberikan Keterampilan Dasar
Keterampilan dasar
yang dipelajari di sekolah
diantaranya adalah kemampuan
belajar, menulis, dan berhitung. Ketiga
keterampilan dasar ini sangat
dibutuhkan manusia agar bisa mendapatkan pekerjaan dan bermanfaat bagi
masyarakat.
c.
Membentuk Pribadi Sosial
Manusia
adalah mahluk sosial yang saling membutuhkan satu sama lainnya. Melalui sekolah, para peserta didik
dibentuk menjadi individu yang dapat berinteraksi
dan bergaul dengan sesamanya tanpa terhambat oleh adanya perbedaan
d.
Menyediakan Sumber Daya Manusia
Pendidikan
yang didapatkan di sekolah akan memberikan berbagai ilmu pengetahuan bagi manusia.
Pengetahuan tersebut akan menciptakan sumber
daya manusia yang berkualitas yang dibutuhkan oleh dunia kerja dan masyarakat.
e.
Alat Transformasi Kebudayaan
Selain
memberikan ilmu pengetahuan dan keterampilan, pendidikan di sekolah juga dapat memberikan perubahan
dalam kehidupan masyaraka secara
umum. Pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki oleh manusia dapat membantu mereka dalam melakukan
melakukan inovasi ataupun penemuan baru dalam perkembangan peradaban manusia.
Tahapan pendidikan di sekolah adalah jenjang
atau urutan pendidikan yang didapatkan
oleh peserta didik berdasarkan tingkat perkembangan, tujuan yang akan
dicapai, dan kemampuan yang
dikembangkan.
Sesuai dengan pengertian sekolah di atas.
adapun beberapa tahapan pendidikan di sekolah adalah sebagai berikut ini:
a.
Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD)
PAUD
adalah pendidikan dan pembinaan yang diberikan kepada anak sejak lahir hingga berusian enam tahun.
Pendidikan ini diberikan kepada anak usia
dini untuk membantu tumbuh kembang jasmani dan rohani anak menuju
jenjang pendidikan berikutnya.
b.
Pendidikan Dasar
Pendidikan dasar adalah tahapan
pendidikan awal selama sembilan tahun,
yaitu Sekolah Dasar (SD) selama enam tahun dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) selama 3 tahun. Pendidikan
dasar sembilan tahun ini merupakan
bentuk Program Wajib Belajar yang dicanangkan oleh pemerintah Indonesia.
c. Pendidikan Menengah
Pendidikan
menengah adalah tahapan pendidikan berikutnya setelah pendidikan dasar sembilan tahun. Pendidikan menengah ini umumnya disebut dengan Sekolah Menengah Atas
(SMA). Waktu belajarnya adalah selama tiga tahun.
d.
Pendidikan Tinggi
Pendidikan
tinggi merupakan tahapan pendidikan tingkat lanjutan setelah pendidikan menengah dan diselenggarakan oleh perguruan tinggi.
Adapun beberapa program
pendidikan yang termasuk dalam pendidikan tinggi adalah;
· Diploma
· Sarjana
· Magister
· Doktor
Demikianlah
penjelasan ringkas mengenai pengertian sekolah, fungsi, unsur-unsur, dan
tahapan pendidikannya.
BAB IV KESIMPULAN
Dari uraian tersebut baik tinjauan Kamus
Besar Bahasa Indonesia, buku, pendapat para ahli serta perundang – undangan yang ada maka konsep dan hakikat pendidikan dapat disimpulkan sebagai berikut :
1.
Bahwa pendidikan merupakan usaha sadar dari pendidik yang mempunyai tanggung
jawab mengenai masa depan anak atau peserta didik
2.
Tujuan yang ingin dicapai, yaitu
pengembangan diri individu untuk meningkatkan
pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai sehingga bermanfaat bagi
kepentingan hidupnya sebagai
seorang pribadi dan sebagai anggota masyarakat serta mampu menyesuaikan diri dengan
lingkungan yang selalu berubah
3.
Dalam setiap usaha pencapaian
tujuan peserta didik dilibatkan dan diikutsertakan secara aktif
4.
Proses dan waktu pendidikan
berlangsung sepanjang hayat mulai dari lahir hingga manusia meninggal
5.
Pencapaian tujuan pendidikan
terlaksanakan dalam suatu proses yang memerlukan bimbingan, pengajaran
dan latihan yang terencana, teratur dan sistematis
6.
Kegiatan pendidikan terselenggara dalam
jalur pendidikan di sekolah dan pendidikan di luar
sekolah.
7.
Pendidikan adalah aktivitas dan usaha manusia
untuk meningkatkan kepribadiannya dengan jalan membina potensi – potensi pribadinya, yaitu
rokhani (pikir, karsa, rasa, cipta, dan budinurani) dan jasmani (pancaindera serta keterampilan – keterampilan.
8.
Pendidikan berarti juga lembaga
yang bertanggung jawab menetapkan cita – cita
(tujuan) pendidikan, isi,
system, dan organisasi pendidikan.
9.
Pendidikan merupakan pula hasil
atau prestasi yang dicapai oleh perkembangan
manusia dan usaha lembaga – lembaga tersebut dalam mencapai tujuannya.
Pendidikan dalam arti ini merupakan
tingkat kemajuan masyarakat dan kebudayaan sebagai
satu kesatuan.
B.
SARAN
Walaupun konsep dan hakikat pendidikan yang dikemukakan
para ahli sangat beragam, namun
untuk keperluan aplikasi,
kita tetap perlu memiliki pegangan
tertentu yang cukup
mantap. Salah satu pandangan yang tetap mantap
tentang pendidikan hingga
sekarang adalah pandangan perkembangan.
DAFTAR PUSTAKA
Agus Taufiq, Hera L. Mikarsa, Puji L. Prianto. 2010. Pendidikan Anak di SD. Jakarta : Universitas Terbuka.
Dr. M. Sukardjo, Ukim Komarudin, M.Pd. 2010. Landasan Pendidikan. Jakarta : PT Rajagrafindo Persada.
Drs. H. Abu
Ahmadi, Dra. Nur Uhbiyati. 2001. Ilmu
Pendidikan. Jakarta : Rineka Cipta. Drs. H. M.
Djumransjah, M. Ed. 2006. Filsafat
Pendidikan. Malang : Bayumedia
Publishing.
http://abidinajitama.wordpress.com/2012/10/06/makalah-hakekat-pendidikan/ http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/11/08/hakikat-pendidikan/ http://kbbi.web.id/
http://makalahmajannaii.blogspot.com/2012/10/makalah-hakikat-pendidikan.html http://mbahduan.blogspot.com/2012/04/makalah-konsep-pendidikan.html http://nie07independent.wordpress.com/konsep-pendidikan/ http://westlintang.blogspot.com/2012/03/makalah-konsep-dasar-pendidikan.html http://www.preservearticles.com/2012010920245/short-essay-on-the-meaning-of- education.html
Nursid Sumaatmadja. 2007. Konsep Dasar IPS. Jakarta : Universitas Terbuka. https://blog.ruangguru.com/tiga-gaya-belajar https://thabaart.blogspot.com/2017/11/hakikat-belajar.html https://www.maxmanroe.com/vid/umum/pengertian-sekolah.html
Komentar
Posting Komentar