PENDEKATAN PENDIDIKAN

                                                                         (Makalah)

PENDEKATAN PENDIDIKAN

 

Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah
 KEPEMIMPINAN PENDIDIKAN

 

Dosen Pengampu:

Dr. Tri Yuni Hendrowati, M.Pd.

Drs.Wanawir, AM. M.Pd.,MM. 

 

Disusun Oleh:

KELOMPOK 2

 

HENDRA (20227087010    )

PRAYITNO (20227087010    )

HARIYANTO (20227087010    )

 

 

 

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PRINGSEWU LAMPUNG

PROGRAM PASCA SARJANA FAULTAS KEGURUAN PENDIDIKAN

TAHUN AKADEMIK 2022/2023

 

 

IDENTITAS PENYUSUN

 

 

 

 

 

KELOMPOK 3

 

YULIZA (2022708701079)

HENDRA (20227087010    )

PRAYITNO (20227087010    )

HARIYANTO (20227087010    )

 

 

Kelas : C

Program Study : Magister Administrasi Pendidikan

Semester Ganjil Tahun Akademik 2022/2023

Jum’at/ 05 November 2022

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

KATA PENGANTAR

 

Puji Syukur Kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya kepada penyusun sehingga kami dapat menyelesaikan pembuatan Makalah “Anatomi dan Pola Perilaku Biaya dalam Pendidikan”.

Makalah ini disusun sebagai pemenuhan tugas Mata Kuliah Kepemimpinan Pendidikan dengan kode Mata Kuliah 7012308 pada Program Study Administrasi Pendidikan di Universitas Muhammadiyah Pringsewu.

Kepemimpinan Pendidikan merupakan mata kuliah wajib yang bermanfaat untuk  meningkatkan kemampuan dan keterampilan mahasiswa tentang konsep dasar Kepemimpinan Pendidikan, fungsi-fungsi  Kepemimpinan Pendidikan, pengelolaan sekolah yang bermutu dan berkarakter. Matakuliah ini merupakan kelompok mata kuliah bidang Kepemimpinan Pendidikan yang wajib untuk diikuti oleh mahasiswa dalam memilih bidang keahliannya.

Salah satu materi pokok mata kuliah ini yaitu mengenai Pendekatan Kepemimpinanan dan berbagai pendekatan kepemimpinan yang meliputi perkembangan pendekatan kepemimpinan, sifat, prilaku, kontigensi dan pendekatan terpadu yang akan kami jabarkan dalam bentuk makalah. Dengan makalah ini diharapkan kami dapat memiliki wawasan yang komprehensif dan sistematik tentang Kepemimpinan Pendidikan.

Dalam kesempatan ini, penyusun mengucapkan terimakasih kepada Ibu Dr. Tri Yuni Hendrowati, M.Pd. dan Bapak Drs.Wanawir, AM. M.Pd.,MM. selaku dosen pengampu mata kuliah Kepemimpinan Pendidikan dan rekan-rekan kelompok 3 yang telah bekerjasama dalam penyelesaian makalah ini hingga makalah ini selesai tepat waktu.

Sebagai penyusun kami merasa masih banyak kekurangan dalam penyusunan makalah ini karena keterbatasan pengetahuan dan pengalaman kami. Oleh karena itu kami berharap kritik dan saran yang bersifat membangun dari pembaca demi kesempurnaan makalah-makalah berikutnya.

Pringsewu, 30  Oktober 2022

 

Penyusun

 

BAB I

 PENDAHULUAN

 

A. Latar Belakang Masalah

Kepemimpinan (leadership) dapat dikatakan sebagai cara dari seorang pemimpin (leader) dalam mengarahkan, mendorong dan mengatur seluruh unsur unsur di dalam kelompok atau organisasinya untuk mencapai suatu tujuan organisasi yang diinginkan sehingga menghasilkan kinerja pegawai yang maksimal. Dengan meningkatnya kinerja pegawai berarti tercapainya hasil kerja seseorang atau pegawai dalam mewujudkan tujuan organisasi. Kemampuan dan keterampilan dari seorang pimpinan adalah faktor penting dalam memotivasi pegawainya agar lebih bekerja dengan baik. Dalam hal ini pengaruh seorang pimimpinan sangat menentukan arah tujuan dari organisasi, karena untuk merealisasikan tujuan organisasi perlu menerapkan peran dalam memimpin kerja yang konsisten terhadap situasi kerja yang dihadapi. Selain itu seorang pemimpin didalam melaksanakan tugasnya harus berupaya menciptakan dan memelihara hubungan yang baik dengan bawahannya agar mereka dapat bekerja secara produktif.

 

 Dengan demikian, secara tidak langsung motivasi dari pegawai semakin meningkat. Pemimpin berfungsi untuk memandu, menuntun, membimbing, membangunkan motivasi kerja, mengemudikan organisasi, menjalin 2 komunikasi yang baik, melakukan pengawasan secara teratur, dan mengarahkan pada bawahannya kepada sasaran yang ingin dituju. Berhubungan dengan itu menjadi kewajiban dari setiap pemimpin agar bawahannya termotivasi utuk bekerja lebih baik lagi. Peran kepemimpinan juga merupakan suatu cara yang dimiliki oleh seseorang untuk mempengaruhi sekelompok orang atau bawahan untuk bekerja sama dan berdaya upaya dengan penuh semangat dan keyakinan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Keberhasilan suatu organisasi baik secara keseluruhan maupun sebagai kelompok dalam suatu organisasi tertentu, sangat tergantung pada efektivitas kepemimpinan untuk membangkitkan motivasi atau semangat kerja pegawai terhadap tugas dan tanggung jawabnya.

 

 

B. Rumusan Masalah

Rumusan masalah dalam makalah ini adalah:

1. Bagaimana pendekatan dalam kepemimpinan

2. Bagaimana pendekatan prilaku kepemimpinan

3. Bagaimana cara kepemimpinan Gaya direktif

4. Bagaimana cara kepemimpinan Gaya konsultatif

5. Bagaimana cara kepemimpinan Gaya partisipatif

6. Bagaimana cara kepemimpinan Gaya free-rain

7. Bagaimana cara kepemimpinan Pendekatan Situasional

8. Bagaimana cara kepemimpinan Gaya Dasar Kepemimpinan

9. Bagaimana Kematangan Para Pengikut

 

C. Tujuan dan Manfaat Penulisan Makaalah

1. Tujuan penulisan makalah

a. Mendiskripsikan pendekatan dalam kepemimpinan

b. Mendiskripsikan pendekatan prilaku kepemimpinan

c. Mendiskripsikan kepemimpinan Gaya direktif

d. Mendiskripsikan kepemimpinan Gaya konsultatif

e. Mendiskripsikan kepemimpinan Gaya partisipatif

f. Mendiskripsikan kepemimpinan Gaya free-rain

g. Mendiskripsikan kepemimpinan Pendekatan Situasional

h. Mendiskripsikan kepemimpinan Gaya Dasar Kepemimpinan

i. Mendiskripsikan Kematangan Para Pengikut

2. Manfaat penulisan makalah

Manfaat yang diperoleh dari penulisan makalah ini adalah dapat mendiskripsikan secara utuh pendekatan kepemimpinan.

A. PENDEKATAN DALAM STUDI KEPEMIMPINAN

 

Menurut Rost (1993), dikutip dari Safaria (2004), Kepemimpinan adalah sebuah hubungan yang saling mempengaruhi di antara pemimpin dan pengikut (bawahan) yang menginginkan perubahan nyata yang mencerminkan tujuan bersamanya. Proses kepemimpinan juga melibatkan keinginan dan niat, keterlibatan yang aktif antara pemimpin dan pengikut untuk mancapai tujuan yang diinginkan bersama. Dengan demikian, baik pemimpin ataupun pengikut mengambil tanggung jawab (personal responsibility) pribadi untuk mencapai tujuan bersama. Sedangkan menurut Ivancevich, Konopaske, dan Matteson (2006), menjelaskan bahwa kepemimpinan adalah proses mempengaruhi orang lain untuk memfasilitasi pencapaian tujuan organisasi yang relevan menampilkan kepemimpinan tidak mengharuskan seseorang berada pada posisi pemimpin formal.

a. Pendekatan Perilaku

Pendekatan perilaku adalah perhatian utama dalam mengidentifikasi perilaku kepemimpinan yang efektif. Pendekatan ini muncul setelah pendekatan berdasarkan ciri ini menekankan pada sifat pemimpin seperti kepribadian, motivasi nilai, dan keterampilan mengalami kegagalan. Pendekatan perilaku pemimpin menggunakan waktunya dan pola aktivitas, tanggung jawab dan fungsi spesifik dari pekerjaan manajerial dan bagaimana para manajer menanggulangi permintaan, keterbatasan dan konflik peran dalam pekerjaan mereka yang berkombinasi menjadi konsep perilaku pemimpin yang merupakan deskripsi dari perilaku pemimpin (Yukl, 2005). Menurut Gatto karakteristik gaya kepemiminan ada empat kategori, yaitu gaya direktif, gaya konsultatif, gaya partisipatif, dan gaya free-rain. Karakteristik dari setiap gaya tersebut dapat diuraikan secara singkat sebagai berikut (Salusu, 1996: 194-195):

1. Gaya direktif

Pemimpin yang direktif pada umumnya membuat keputusan-keputusan penting dan banyak terlibat dalam pelaksanaannya. Semua kegiatan terpusat pada pemimpin, dan sedikit saja kebebasan orang lain untuk berkreasi dan bertindak yang diizinkan.Pada dasarnya gaya ini adalah gaya otoriter.

2. Gaya konsultatif

Gaya ini dibangun di atas gaya direktif, rang otoriter dan lebih banyak melakukan interaksi dengan para staff dan anggota organisasi. Fungsi pemimpin lebih banyak berkonsultasi, memberikan bimbingan, motivasi, memberi nasihat dalam rangka mencapai tujuan.

3. Gaya partisipatif

Pemimpin cenderung memberi kepercayaan pada kemampuan staff untuk menyelesaikan pekerjaan sebagai tanggung jawab mereka. Dalam gaya ini pemimpin lebih banyak mendengar, menerima, bekerja sama, dan memberi dorongan dalam proses pengambilan keputusan.

4. Gaya free-rain

Gaya free-rain, atau disebut juga gaya delegasi, yaitu gaya yang mendorong kemampuan staff untuk mengambil inisiatif. Kurang interaksi dan kontrol anggota dilakukan oleh pemimpin sehingga gaya ini hanya bisa berjalan apabila staff memperlihatkan tingkat kompetensi dan keyakinan akan mengejar tujuan dan sasaran organisasi.

Menurut Rewansyah (2011: 127) studi kepemimpinan dengan pendekatan perilaku (tingkah laku) guna mengeksplorasi pemikiran bahwa bagaimana perilaku seseorang dapat menentukan keefektifan kepemimpinan seseorang. Hasil studi mereka menemukan sifat, meneliti pengaruhnya pada prestasi dan keputusan dari pengikutnya antara lain : (a) studi dari University of Michigan; (b) Studi dari Ohio State University.

1. University of Michigan

a. Pemimpin yang berfokus pada tugas pekerjaan.

Pemimpin yang berorientasi pada tugas menerapkan pengawasan yang ketat, sehingga bawahan melakukan tugasnya dengan menggunakan prosedur yang ditentukan.

Pemimpin ini mengandalkan kekuatan paksaan, imbalan, dan hukuman, untuk memengaruhi sifat-sifat dan prestasi pengikutnya, perhatian pada orang dilihat sebagai hal mewah yang tidak dapat selalu dipenuhi peimpin.

b. Pemimpin yang berfokus pada bawahan

Mendelegasikan pengambilan keputusan pada bawahan dan membantu pengikutnya dalam memuaskan kebutuhan dengan cara menciptakan lingkungan kerja yang suportif. Memiliki perhatian terhadap kemajuan, pertumbuhan, dan prestasi pribadi pengikutnya. Tindakan ini diasumsikan dapat memajukan pembentukan dan perkembangan kelompok.

2. Ohio State University

1. Membentuk struktur

Melibatkan perilaku di mana pemimpin mengorganisasikan dan mendefinisikan hubungan dalam kelompok, cenderung membangun pola dan saluran komunikasi yang jelas, dan menjelaskan cara mengerjakan tugas yang benar. Pemimpin yang memilik kecenderungan membentuk struktur tinggi, akan beriorentasi pada tujuan dan hasil.

2. Konsiderasi

Melibatkan perilaku yang menunjukkan persahabatan, saling percaya, menghargai, kehangatan, dan komunikasi antara pemimpin dan pengikutnya. Pemimpin yang memiliki konsiderasi tinggi menekankan pentingnya komunikasi yang terbuka dan partisipasi.

b. Pendekatan Situasional

Kepemimpinan situasional menurut hersey and blanchard didasarkan berdasarkan saling berhubungannya hal-hal berikut ini:

1. Jumlah petunjuk dan pengarahan yang diberikan oleh pimpinan

2. Jumlah dukungan sosioemosional yang diberikan oleh pimpinan

3. Tingkat kesiapan dan kematangan para pengikut yang ditunjukan dalam melaksanakan tugas khusus, fungsi atau tujuan tertentu.

Konsep ini dikembangkan untuk membantu orang menjalankan kepemimpinan dengan memperhatikan peranannya. Konsepsional melengkapi pemimpin dengan pemahaman dari hubungan antara gaya kepemimpinan dan tingkat kematangan para pengikutnya. Penekanan dalam situasional ini hanyalah berlaku pada pemimpin dan bawahannya saja. Karna bukan saja pengikut sebagai individu bisa menerima atau menolak pemimpinnya tetapi sebagai pengikut secara kenyataannya dapat menentukan kekuatan pribadi apapun yang dimiliki pemimpin.

c. Gaya Dasar Kepemimpinan

Dalam hubungannya dengan perilaku pemimpin ini ada 2 hal yang biasanya dilakukan oleh pemimpin kepada bawahannya yakni perilaku mengarahkan dan perilaku mendukung. Perilaku mengarahkan dapat dirumuskan sebagai sejauh mana seorang pemimpin melibatkan diri dalam komunikasi satu arah, seperti memberitahukan pengikutnya tentang apa yang harus dikerjakan dimana hal tersebut dilakukan, bagaimana melakukannya dan melakukan pengawasan.

Perilaku mendukung adalah sejauh mana seorang pemimpin melibatkan diri dalam komunikasi dua arah, misal mendengar, menyediakan dukungan dan dorongan, memudahkan interaksi, melibatkan para pengikut dalam mengambil keputusan.

 

Tinggi dukungan dan rendah pengarahan G3

 

Tinggi pengarahan dan tinggi dukungan G2

 

Rendah dukungan dan rendah pengarahan G4

 

Tinggi pengarahan dan rendah dukungan G1

 

Perilaku Mengarahkan

GAMBAR 1.1 Empat Gaya Dasar Kepemimpinan.

Dalam gaya 1 (G1), seorang pemimpin menunjukan perilaku yang banyak memberikan pengarahan namun sedikit dukungan, pemimpin ini memberikan intruksi yang spesifik dan secara ketat mengawasi pelaksanaan tugas bawahannya.

Gaya 2 (G2), pemimpin yang banyak mengarahkan dan banyak memberikan dukungan, pemimpin ini menjelaskan keputusan dan kebijaksanaan dan mau menerima pendapat dari pengikutnya namun tetap harus terus memberikan pengawasan dan pengarahan.

Gaya 3 (G3), pemimpin yang banyak memeberi dukungan namun sedikit dalam pengarahan, pemimpin ini menyusun keputusan bersama-sama dengan para pengikutnya dan mendukung usaha mereka dalam menyelesaikan tugas

Gaya 4 (G4), pemimpin memberikan sedikit dukungan dan sedikit arahan, pemimpin ini mendelegasikan keputusan dan tanggung jawab tugas pada pengikutnya.

 

1. Perilaku Gaya Dasar Kepemimpinan Dalam Pengambilan Keputusan

gaya dasar yang diuraikan diatas dapat diaplikasikan dan di identifikasikan dengan suatu proses pengambilan keputusan. Gaya kepemimpinan dalam pembuatan keputusan dapat dilihat di bawah ini.


 

Partisipasi G3

 

konsultasi G2

Delegasi G4

Instruksi G1

GAMBAR 1.2. Empat Gaya Dasar Kepemimpinan Dalam Proses

 Pembuatan Keputusan

Perilaku pemimpin yang tinggi pengarahan dan rendah dukungan (G1) dirujuk sebagai instruksi karena gaya ini dicirikan dengan komunikasi satu arah. Inisiatif pemecahan masalah dan pengambilan keputusan semata-mata dilakukan oleh pemimpin. Pemecahan masalah dan keputusan diumumkan dan pelaksanaannya diawasi secara ketat oleh pemimpin.

 

Perilaku pemimpin tinggi pengarahan tinggi dukungan (G2) dirujuk sebagai konsultasi, karena pemimpin masih banyak memberikan pengarahan dan hampir sama dengan keputusan namun hal ini dengan meningkatkan komunikasi dua arah, dengan berusaha mendengar ide-ide dan saran-saran pengikut tentang keputusan yang dibuat.

 

Pemimpin yang tinggi dukungan rendah pengarahan (G3) dirujuk sebagai pertisipasi, karena posisi kontrol atau pemecahan masalah dan pembuatan keputusan dipegang secara bergantian. Pemimpin yang rendah dukungan dan rendah pengarahan (G4) dirujuk sebagai delegasi, karena proses pengambilan keputusan di delegasikan secara keseluruhan kepada bawahan, Bawahan memilih kontrol untuk memutuskan tentang bagaimana cara pelaksanaan tugas.

 

B. Kematangan Para Pengikut

Kematangan dalam kepemimpinan situasional dapat dirumuskan sebagai suatu kemampuan orang-orang untuk bertanggung jawab dalam mengarahkan perilakunya sendiri. Kemauan merupakan salah satu unsur dalam kematangan berkaitan dengan pengetahuan atau keterampilan yang dapat diperoleh dari pendidikan, pelatihan dan pengalaman adapun kemauan merupakan unsur dari kematangan yang berkaitan dengan keyakinan diri dan motivasi.

 

Dalam kaitannya dengan tingkat kematangan seseorang dalam organisasi perlu diingat  bahwa tidak ada seorang pun yang mampu berkembang secara penuh atau sebaliknya dibawah garis kematangan. Dengan kata lain kematangan atau perkembangan bukanlah suatu konsep global, melainkan sebuah konsep tentang tugas spesifik, dalam hubungan ini seseorang cenderung berada dalam tingkat yang berbeda-beda tergantung tugas,fungsi atau tujuan yang ditugaskan kepada mereka. Dengan demikian kepemimpinan situasional berfokus kepada kesesuaian atau efektifitas kepemimpinan sejalan dengan tingkat kematangan yang relevan dari para pengikut, hubungan ini dilukiskan dalam gambar berikut.

 

GAMBAR 1.3. Model Kepemimpinan Situasional

Dengan membagi kontinum tingkat kematangan di bawah model kepemimpinan ke dalam empat tingkat : renah (M1), rendah ke sedang (M2), sedang ke tinggi (M3), dan tinggi (M4), maka beberapa tanda yang menunjukan tingkat kematangan itu dapat dirujuk.


Tiap Tingkat perkembangan ini menunjukkan kombinasi kemampuan dan kemauan yang berbeda seperti dapat dirujuk pada ilustrasi dibawah ini.

 

 

 

Mampu dan mau

 

Mampu tetapi tidak mau atau kurang yakin

 

Tidak mampu tetapi mau

 

Tidak mampu dan tidak mau atau tidak yakin

M4

M3

M2

 

M1

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 1.3 menggambarkan hubungan antara tingkat kematangan para pengikut atau bawahan dengan gaya kepemimpinan yang sesuai untuk diterapkan ketika para pengikut bergerak dari kematangan yang sedang ke kematangan yang telah berkembang (M1  M4). Hubungan berikut adalah sebagai berikut :

 

Instruksi diberikan untuk pengikut yang rendah kematangannya. Orang yang tidak mampu dan mau (M1) memiliki tanggung jawab untuk melaksanakan sesuatu adalah tidak kompeten atau tidak memiliki keyakinan. Ketidakinginan adalah akbiat dari ketidakyakinan pengalaman atau pengetahuannya tentang tugasnya. Dengan demikian gaya kepemimpinan (G1) memberikan pengarahan yang jelas dan spesifik. Pengawasan yang ketat memiliki tingkat efektif yang tinggi.

 

Konsultasi adalah tingkat kematangan rendah ke sedang. Orang yang tidak mampu tetapi berkeinginan (M2) untuk memikul tanggung jawab memiliki keyakinan tetapi kurang memiliki keterampilan. Dengan demikian gaya “konsultasi” (G2) yang memberikan yang memberikan perilaku mengarahka, karena mereka kurang mampu, juga memberikan perilaku mendukung untuk memperkuat kemampuan dan antusias, tampaknya merupakan gaya yang sesuai.

 

Partisipasi adalah bagi tingkat kematangan dari sedang ke tinggi, orang orang pada tingkat perkembangan ini memiliki kemampuan tetapi tidak berkeinginan (M3) untuk melakukan suatu tugas yang diberikan. Ketidakinginan biasanya disebabkan karena kurangnya keyakinan atau kurangnya motivasi. Dalam kasus seperti ini pemimpin perlu membuka komunikasi dua arah dan secara aktif mendukung usaha usaha para pengikut untuk menggunakan kemampuan yang telah mereka miliki, gaya yang cocok untuk situasi seperti ini adalah “partisipasi” (G3), karena pemimpin atau pengikut salng tukar menukar ide dalam pembuatan keputusan.

 

Delegasi adalah tingkat kematangan yang tinggi. Orang orang dengan tingkat kematangan yang tinggi mampu dan mau untuk memikul tanggung jawab (M4). Dengan demikian gaya “delegasi” (G4) memberikan sedikit pengarahan atau dukungan memiliki tingkat kemungkinan efektif yang paling tinggi dengan individu dengan tingkat kematangan seperti ini.


BAB III

PENUTUP

 

A. SIMPULAN

Dari pembahasan diatas maka dapat diambil kesimpulan dari makalah ini sebagai berikut:

1. Kepemimpinan (leadership) dapat dikatakan sebagai cara dari seorang pemimpin (leader) dalam mengarahkan, mendorong dan mengatur seluruh unsur unsur di dalam kelompok atau organisasinya untuk mencapai suatu tujuan organisasi

2. kepemimpinan dengan pendekatan perilaku (tingkah laku) guna mengeksplorasi pemikiran bahwa bagaimana perilaku seseorang dapat menentukan keefektifan kepemimpinan seseorang.

3. Perilaku mendukung adalah sejauh mana seorang pemimpin melibatkan diri dalam komunikasi dua arah, misal mendengar, menyediakan dukungan dan dorongan, memudahkan interaksi, melibatkan para pengikut dalam mengambil keputusan.

4. Konsep ini dikembangkan untuk membantu orang menjalankan kepemimpinan dengan memperhatikan peranannya. Konsepsional melengkapi pemimpin dengan pemahaman dari hubungan antara gaya kepemimpinan dan tingkat kematangan para pengikutnya.

B. SARAN

Saran yang dapat penyusun sampaikan antara lain adalah sebagai berikut:

1. Untuk menjadi seorang pemimpin harus melibatkan diri dalam komunikasi dua arah, misal mendengar, menyediakan dukungan dan dorongan, memudahkan interaksi, melibatkan para pengikut dalam mengambil keputusan.

2. Sebagai seorang pemimpin (leader) dalam mengarahkan, mendorong dan mengatur seluruh unsur unsur di dalam kelompok atau organisasinya untuk mencapai suatu tujuan organisasi

 

Daftar Pustaka

 

 

Thoha, Mifta. 1983. Kepemimpinan Dalam Manajemen. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/27075/4/Chapter%20II.pdf. Diakses pada

tanggal 20 Oktober 2015.

Rewansyah, Asmawi. 2011. Kepemimpinan dalam Pelayanan Publik. Jakarta: CV Yusaintanas Prima.

PG Northouse. (2013). Kepemimpinan: Teori dan praktik. Indeks\

 

Yukl, G.-. (2005). Kepemimpinan dalam organisasi. PT. Indeks.

 

Kartono, K. (2006). Pemimpin dan Kepemimpinan. PT. Raja Grafindo Persada.

 

Blanchard, K., Fowler, S., & Laurence Hawkins. (2006). Self Leadership and the One Minute Manager ‚Increasing Effectiveness Through Situasional Self Leadership.‛ In Harper Collins e-Books.

 

Chemers, M., & Skrzypek, G. (1972). Experimental Test  of  The Contingency Model of Leadership Effectiveness.   Journal   of Personality

And Social.

 https://psycnet.apa.org/record/1973- 04393-001


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Konsep Dasar Muamalah Duniawiyah ** YULIZA

MODUL AJAR MATEMATIKA KELAS 6 SD "Pecahan dan Desimal"

SEJARAH PERKEMBANGAN MUHAMMADIYAH DI INDONESIA